Blogroll

Wednesday, October 23, 2013

LAPORAN DISOLUSI OBAT



BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Sebagian besar komponen penting yang diperlukan dalam peningkatan kesehatan adalah obat. Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan bahkan mencegah penyakit. Proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat ke dalam larutan pada suatu medium disebut disolusi.

Dalam dunia kefarmasian para apoteker dan pakar-pakar kimia senantiasa merancang sediaan obat supaya mampu merancang terobosan baru dalam menciptakan suati produk yang berkualitas, baik dari segi kesetabilan obat maupun efek yangditimbulkan. Sudah sepantasnya. Sebagai seorang farmasis kitaharus selalu menggali informasi terkini mengenai teknologi obatdari berbagai segi. Disini yang paling ditekankan yaitu pada preformulasi. Preformulasi merupakan metode perancangan suatu riset dalamrangka menyusun konsep baru yang nantinya harusmampumenghasilkan suatu maha karya yang bernilai
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk  sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut  ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Obat yang telah memenuhi persyaratan baik dari waktu hancur, keregasan, keseragaman bobot, dan penetapan kadar, belum dapat menjamin bahwa suatu obat memenuhi efek terapi. Karena itu uji disolusi harus dilakukan pada setiap produksi tablet atau kapsul.
. Laju disolusi atau kecepatan melarut obat-obat yang relatif tidak larut dalam air telah lama menjadi masalah pada industri farmasi. Obat-obat tersebutumumnya mengalami proses disolusi yang lambat demikian pula laju absorpsinya.Dalam hal ini partikel obat terlarut akan diabsorpsi pada laju rendah atau bahkan tidak diabsorpsi seluruhnya. Dengan demikian absorpsi obat tersebut menjadi tidak sempurna
 Sediaan tablet termasuk dalam persyaratan uji disolusi yaitu untuk mengetahui seberapa banyak persentase zat aktif dalam obat yang terlarut dan terabsorbsi ke dalam peredaran darah untuk memberikan efek terapi. Disolusi menggambarkan efek obat terhadap tubuh, jika disolusi memenuhi syarat maka diharapkan obat akan memberikan khasiat pada tubuh. Oleh karena itu, pada percobaan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui kecepatan disolusi dari tablet amoksisilin dengan menggunakan alat disolusi dan titrasi alkalimetri dengan larutan baku NaOH dan penambahan indikator fenolftalein.
I.2       Maksud dan Tujuan
I.2.1    Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan yaitu, untuk mengetahui dan memahami cara penentuan konstanta kecepatan disolusi dari suatu obat.
I.2.2    Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan yaitu, menentukan kecepatan disolusi dari tablet amoksisilin dengan menggunakan alat disolusi.
I.3       Prinsip percobaan
Prinsip percobaan ini yaitu didasarkan pada penentuan konstanta kecepatan disolusi dari tablet amoksisilin berdasarkan kadar amoksisilin yang terdisolusi dalam media air suling dengan menggunakan alat disolusi dan menentukan kadarnya menggunakan titrasi alkalimetri menggunakan NaOH 0,05 N baku dan penambahan indikator fenoftalein pada menit ke 5, 10, 15, 20 dan 30 berdasarkan perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1      Teori Umum
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus  diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan  pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Persamaan kecepatan menurut Noyes dan Whitney sebagai berikut (Ansel, 1993):
                       
           
dM.dt-1                                : Kecepatan disolusi
D                     : Koefisien difusi
Cs                    : Kelarutan zat padat
C                     : Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu
h                      : Tebal lapisan difusi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1.        Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat. Menurut Einstein,koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut (Martin, 1993):
   D         : koefisien difusi
   r           : jari-jari molekul
   k          : konstanta Boltzman
   ή          : viskositas pelarut
   T          : suhu
2.        Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.
3.        pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau basa lemah.
Untuk asam lemah:


Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.
       Untuk basa lemah:
                

       Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.
4.        Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.
5.        Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
6.        Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan disolusinya besar.
7.        Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah.
               Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1.      Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.
2.           Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Umumnya zat diubah menjadi tablet terlebih dahulu, kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi.
Prinsip kerja alat disolusi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (Dirjen POM, 1995) :
1.      Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan keranjang yang berbentuk silinder dan dipanaskan  dengan tangas air pada suhu 370C.
2.      Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikel wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti.
II.2         Uraian Bahan
II.2.1      Air suling (Dirjen POM, 1979)
         Nama resmi              : Aqua destillata
               Nama lain                 : Air suling, aquadest
         RM/BM                    : H2O/18,02
               Rumus Struktur        :
               Pemerian                  : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
                                            mempunyai rasa.
Kelarutan                 : -
Penyimpanan            : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat                     : -
               Kegunaan                 : Medium disolusi
II.2.2      Fenolftalein (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi              : Phenolftalein
               Nama lain                 : Fenolftalein
RM/BM                    :  C20H14O4/318,32
Rumus Struktur        :

            
             Pemerian                  : Serbuk hablur putih, putih atau kekuningan, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.
Kelarutan                 : Sukar larut dalam air, larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan           : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat                    : -
Kegunaan                : Sebagai larutan indikator.
II.2.3      Natrium hidroksida (Dirjen POM,1995)
Nama resmi             : Natrii hydroxydum
Nama lain                : Natrium hidroksida
RM/BM                   : NaOH/40,00
Rumus struktur        : Na - O - H
Pemerian                  : Bentuk batang, butiran, masa hablur atau keping, kering, rapuh dan mudah meleleh basah, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap CO2.
Kelarutan                 : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%).
Penyimpanan            : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat                     : -
Kegunaan                 : Larutan baku



II.2.4      Amoksisilin (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi             : Amoxicillinum
Nama lain                :            Amoksisilin
RM/BM                   :            C16H19N3O5S/419,45
Rumus struktur        :



Pemerian                 : Serbuk hablur, putih ; praktis tidak berbau
Kelarutan                : Sukar larut dalam air dan methanol ; tidak larut dalam benzena, dalam karbon tetraklorida dan dalam   kloroform
Penyimpanan             : Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu kamar terkendali
Khasiat                    : Sebagai antibiotik
Kegunaan                : Sebagai sampel








BAB III
METODE KERJA
III.1     Alat dan Bahan
III.1.1 Alat-alat yang digunakan
1.      Alat disolusi (Vision Elite Hanson)
2.      Buret (Pyrex)
3.      Erlemeyer (Pyrex)
4.      Gelas beker (Pyrex)
5.      Gelas ukur (Pyrex)
6.      Pipet volume (Pyrex)
7.      Termometer
III.1.2 Bahan-bahan yang digunakan
1.      Aqua destilata
2.      NaOH
3.      Indikator Fenolftalein
4.      Tablet amoksisilin
III.2.    Cara kerja
1.      Disiapkan alat dan bahan.
2.      Diisi bejana dan alat disolusi dengan 900 ml air suling.
3.      Diatur termostat pada temperatur 370C dan dimasukkan 1 gr amoksisilin lalu dijalankan motor penggerak dengan kecepatan 100 rpm.
4.      Diambil sebanyak 20 ml air dalam bejana setiap selang waktu 5, 10, 15, 20 dan 30 menit setelah pengocokan. Setiap selesi pengambilan sampel segera diganti dengan 20 ml air.
5.      Ditentukan kadar amoksisilin yang larut pada masing-masing sampel dengan metode titrasi asam basa menggunakan NaOH 0,01 N dan fenolftalein. Kemudian dilakukan percobaan yang sama untuk 400C.
6.      Seluruh hasil yang diperoleh ditulis dalam bentuk tabel.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1     Data Pengamatan
No

Waktu
(menit)
V1
(mL)
V2
(mL
1
5
1,5
1,7
2
10
1,7
1,5
3
15
1,6
1,6
4
20
1,4
1,8
5
30
1,5
1,7
IV.2     Perhitungan
IV.2.1 Persen Kadar
% K1 =  x 100 %
% K2 =   x 100 %
% Kadar Rata- Rata =
N = 0,5 N
Bst = 52,43
Bs = 1000 mg
1)      t = 5 menit
% K1     =  X 100 %
=  X 100 %
= 0,0393 X 100 %
= 3,93 %
% K2     =  X 100 %
            =  X 100 %
            = 0,0445 X 100 %
            = 4,45 %
K rata-rata =
                              = 4,19 %
2)      t = 10 menit
% K1     =  x 100 %
            =  x 100 %
            = 0,0445 x 100 %
            = 4,45 %
% K2     =
            =
            = 0,0393 x 100 %
            = 3,93 %
% K rata-rata =
= 4,19 %
3)      t = 15 menit
% K1    =  x 100 %
            =
            = 0,0419 x 100 %
            = 4,19 %
% K2     =
            =
            = 0,0419 x 100 %
            = 4,19 %
% K rata-rata =
                       = 4,19 %
4)      t = 20 menit
% K1    =  100 %
            =
            = 0, 0367 x 100 %
            = 3,67 %
% K2    =
            =
            = 0,0471 x 100 %
           = 4,71 %
% K rata-rata =
                       = 4,19 %
5)      t = 30 menit
% K1     =
            =
            = 0,0393 X 100 %
            = 3,93 %
% K2     =
            =
            = 0,0445 X 100 %
            = 4,45 %
% K rata-rata =
                           = 4,19 %


IV.2.2 Bobot zat aktif yang Larut
Wn = % K x 900 %
1)      t = 5 menit
Wn = x 900 mL
 = 37,71 mg
2)      t = 10 menit
Wn = 4,19 % x 900 mL
        =
        = 37,71 mg
3)      t = 15 menit
Wn = 4,19 % x 900 mL
        =        
        = 37,71 mg
4)      t = 20 menit
Wn  = 4,19 % x 900 mL
        =
        = 37,71 mg   
5)      t = 30 menit
Wn  = 4,19 % x 900 mL
        =
        = 37,71 mg
IV.2.3 Persen Kelarutan
% K =
1)      t = 5
% K =
         = 3,771 %
2)      t = 10
% K  =
         = 3,771 %
3)      t = 15
% K =
                           = 3,771 %
4)      t = 20
% K  =
         = 3,771 %
5)      t = 30
% K =
         = 3,771 %
IV.2 Regresi Linear
Waktu
(menit)
Wa – Wn
(mg)
Log Wa-Wn
5
962,29
2,98
10
962,29
2,98
15
962,29
2,98
20
962,29
2,98
30
962,29
2,98

IV.3 Reaksi –Reaksi
C16H19N3O5S + NaOH               NaC16H18N3O5S + H2O


BAB V
PEMBAHASAN
Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam medianya setiap waktu tertentu (Mulyono, 2008).
Kecepatan disolusi atau kelarutan sangat diperlukan untuk membantunya memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat. Pelarutan suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh (Martin, 2008).
Pada percobaan kali ini menentukan laju disolusi dari amoksisilin, yang dipengaruhi oleh temperatur. Sebelum melakukan uji disolusi, hal yang pertama dilakukan yaitu menyediakan dan membersihkan alat menggunakan alkohol 70%  untuk membebaskan debu dan mebebaslemakkan alat yang.  Selanjutnya diisi bejana dan alat disolusi dengan aquadest sebanyak 900 mL, lalu dicampurkan 1 gram amoksisilin dalam bejana dan diatur temperatur alat disolusi 370C disesuaikan dengan suhu tubuh normal pada manusia serta dijalankan motor dengan kecepatan 100 rpm. Hal ini dikarenakan kita akan menguji obat tersebut melarut dalam tubuh. Kemudian pada menit pertama setelah alat disolusi dijalankan ambil campuran aquadest dengan amoksisilin sebanyak 20 mL dengan menggunakan pipet volume dan dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer. Dilakukan kembali pengambilan larutan amoksisilin sebanyk 20 ml pada menit ke-5, 10, 15, 20, dan 30, usahakan setiap selesai pengambilan larutan diganti dengan 20 mL air.
Setelah semua sampel dari masing-masing waktu telah ada, maka selanjutnya ditentukan kadar masing-masing sampel dengan menggunakan metode titrasi alkalimetri, karena sampel yang akan ditentukan kadarnya adalah amoksisilin yang bersifat asam maka untuk menentukan kadarnya harus dinetralisasi dengan menggunakan larutan bersifat basa NaOH 0,01 N dan ditambahkan indikator fenolftalein untuk menentukan titik akhir titrasi dengan adanya perubahan warna dari tidak berwarna menjadi warna merah. (Alfian, 2008).
. Berdasarkan hasil perhitungan persen kadar diperoleh pada menit ke 5, 10, 15, 20 dan 30 masing-masing adalah 4,19 %; 4,19 %; 4,19 % ; 4,71 %; dan 4,45 %.






















BAB VI
PENUTUP
VI.I     Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa % kadar yang di peroleh pada menit ke 5, 10, 15, 20 dan 30 masing-masing adalah 4,19 %; 4,19 %; 4,19 %; 4,71 %; dan 4,45 %.
VI.I     Saran
Diharapkan kepada praktikan mampu memahami dan menguasai materi praktikum sebelum melakukan praktikum. Serta dapat berhati-hati dalam menggunakan alat yang digunakan pada saat praktikum sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.











1 comments: